maksud Allah memberi ujian kepada kita?
السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Bagian I
Setiap manusia yang hidup pasti pernah mengalami sebuah kondisi
yang secara manusiawi berat untuk menerimanya। Dalam tuntunan Islam, keadaan itu
dinamakan ujian atau cobaan dari Allah Ta’ala.
Beberapa pertanyaan dalam hati…atau juga terkadang sering
terlontar dari mulut kita : “ Kenapa cabaan datang kepadaku bertubi-tubi….Ada
apa ini?”….atau “ Aku sudah sholat….sudah sedekah….kenapa
kesuksesanku belum juga datang??” …….atau “Ya Allah ….orang
yang aku kasihi…aku cintai…..telah Engkau putuskan ….Engkau ambil!!”……..atau
yang lebih ekstrim, “ Kenapa Allah tidak sayang aku….Dimanakan Dia
berada?”….dll.
Subhanallah……Maha Suci Allah, marilah kita jauhkan prasangka buruk kepada-Nya। Allah Ta’ala Maha Tahu akan keadaan
hamba-hamba-Nya. Banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan, bahwa Allah
Ta’ala tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar batas kemampuannya.
Kita musti iman hal itu dan mesti meyakini hal itu.
Sebuah kesalahan kolektif telah dilakukan oleh umat Muslim, setiap
hari minimal dalam surat yang dinamakan ‘Tujuh yang Di ulang-ulang’…..atau
juga sering disebut ‘Ummul Qitab’…. Atau juga disebut ‘Al
Fatehaah’ ……dimana minimal dibaca 17 kali dalam sehari terdapat
ayat yang berbunyi :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
1.5 Hanya Paduka yang kami sembah, dan hanya kepada Padukalah kami
meminta pertolongan.
Hanya kita lafalkan sebagai sebuah rutinitas saja ? Dikala
rutinitas itu sudah kita laksanakan…menurut kita sudah lunas pula kewajiban
kita ? Kenapa tidak kita baca dengan benar….kemudian kita hayati…kemudian kita
amalkan ayat tersebut ? Kenapa pula kita lebih senang dengan cara-cara Instan
untuk mendapatkan sesuatu ? Bahkan….kita lebih mempercayai pertolongan dan daya
upaya orang lain daripada Tuhannya sendiri ? Padahal setiap hari kit abaca
ayat-Nya itu? Tidak sadarkah kita bahwa segala sesuatu yang akan terjadi …telah
terjadi…dan sedang terjadi….semuanya adalah atas ijin dan perkenan-Nya ?
Dibawah ini kami sampaikan pula beberapa dalil dan nash yang Insya
Allah dapat menambahkan keimanan kita, dan membuka wawasan kita …… Kenapa
sampai cobaan dari Allah itu hadir untuk kita ?
Menurut Hadits Qudsi :
“Yaquwlu Allahu Ta’alaa Limalaa ‘Ikatihii : In Tholiquw Liyaa
‘Abdii Fashubbuw ‘Alayhil Balaa’a Shobba Fa Inni Uhibbu An Asma’a Showtaru.”
Terjemahannya : Allah berfirman kepada Malaikat-Nya : “Pergilah
kepada hamba-Ku। Lalu timpakanlah bermacam-macam
ujian kepadanya karena Aku hendak mendengar suaranya.” ( HQR Thabarani
yang bersumber dari Abu Umamah r.a. )
Berdasarkan Hadits Qudsi tersebut, Allah Ta’ala telah
memerintahkan kepada para malaikat-Nya, yang tidak pernah durhaka dan selalu
melaksanakan perintah-Nya, untuk melakukan berbagai ujian dan cobaan kepada
hamba-hamba-Nya, dengan salah satu tujuan yaitu : terdengar suara hamba-Nya
yang sedang diuji tersebut। Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tergores dalam
hati hamba-hamba-Nya.
Hidup ini tidak akan pernah sunyi akan : senang dan susah….atau
suka dan duka. Keduanya berjalan silih berganti, sebagai sebuah
sunatullah….ketetapan-Nya. Hidup ini penuh dengan cobaan, karena segala sesuatu
jika tidak diuji, tidak pula nampak keasliannya. Seorang pelajar ….untuk bisa
dikatakan naik tingkat, dia harus menjalani ujian terlebih dahulu. Seorang
Karyawan pun demikian pula, bila akan naik pangkat. Para pedagang pun akan
menguji barang dagangannya untuk mengetahui keasliannya, supaya dia tidak
tertipu. Bukankah demikian ? Kenapa untuk urusan duniawiah kita tidak protes ?
Tidak unjuk rasa ? Tapi tatkala ujian datang dari Allah …kita menggerutu….buruk
sangka kepada-Nya? Astaghfirullahal’adzim……marilah kita perbanyak
istighfar।
Firman Allah dalam surat Al Ankabut (29) : 2-3 :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا
آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji
lagi?
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Marilah kita simak dan hayati pula Firman Allah dalam Surat
Al-Kahfi (18) : 7-8 :
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً
لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi
sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka
yang terbaik perbuatannya.
وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيداً
جُرُزاً
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang
di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.
Bagian II
Ujian tidak hanya berupa kesusahan, kesulitan, dan kesakitan saja,
akan tetapi dapat pula berbentuk kesenangan, seperti : kedudukan, harta, dsb। Sebagaimana Firman Allah
dalam Surat Al Anbiyaa (21) : 35 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya
kepada Kamilah kamu dikembalikan.
Ujian dari Allah yang berupa nikmat harta dan berbagai kesenangan,
pada hakekatnya lebih berat daripada ujian dalam wujud kesusahan dan bencana। Orang akan cenderung ingat …dan
kembali kepada agamanya….beribadah kembali dengan giat….memohon kembali kepada
Tuhannya sambil menangis tersedu-sedu….bila ia tertimpa kesusahan dan bencana.
Kebanyakan orang tidaklah demikian bila ia sedang dalam kegembiraan dan
kesenangan. Bukankah demikian ? Batapa tidak adilnya kita ….betapa tidak
malunya kita !!! Astaghfirullahal’adzim…॥marilah kita perbanyak istighfar.
Bagaimana seandainya kondisi itu dibalik…॥tatkala kita menjadi seorang
pempimpin, kemudian anak buah kita berperilaku demikian…।dia ingat kita pada saat dirinya
menderita …. Dikala senang ‘lupa-lupa ingat’….seperti judul sebuah lagu. Apa
yang akan kita lakukan terhadapnya ? Marah ? Menegurnya ? Memecatnya ? Mungkin
hal-hal yang berbau nafsu lainnyalah yang akan kita lakukan….akan tetapi Allah
Ta’ala ?? Allah Ta’ala tetap Maha Rahman dan Rahiim bukan ? Maha
Pengasih dan Penyayang bukan ?
Kekayaan, harta, pangkat, kemegahan, kekuasaan adalah ujian
terberat bagi seorang manusia, apabila dia sadar dan mengetahuinya Hal itu pun
merujuk pada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al ‘Alaq (96) : 6-8 :
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى
karena dia melihat dirinya serba cukup.
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
Rasulullah SAW pernah pula bersabda :
“ Wa Allahi Maal Faqru Akhsyaa ‘Alaykum Walaakinni Akhsya An
Tubsathaad Dunyaa ‘Alaykum Kamaa Busithot ‘Ala Man Kaana Qoblakum, Fanunaa
Fisuwhaa, Kamaa Tanaa Fasuwhaa Fatahlikakum Kamaa
Ahlakathum.” Terjemahannya :
Demi Allah, bukanlah kefakiran atau kemiskinan yang aku
khawatirkan atas kalian, akan tetapi justru aku kuatir ( kalau-kalau) kemewahan
dunia yang kalian dapatkan sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang
sebelum kalian, lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa,
sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula ( HR. Bukhari )
Ujian dan Cobaan dari Allah itu bermacam-macam dan
bertingkat-tingkat pula। Ada ujian yang menimpa tubuh (kesehatan), anak (kenakalan), harta
kekayaan (miskin atau kaya), kekuasaan ( diberi amanat atau dikhianati),
jabatan (promosi atau degradasi), aqidah (murtad atau mu’allaf), dsb. Demikian
pula perintah dan larangan dalam Agama Islam sendiri termasuk juga sebuah ujian
dan cobaan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ‘Agama adalah Ujian dan
Cobaan’.
Pada bagian terdahulu telah kita bahas tentang ujian yang terberat
yang menimpa seorang manusia adalah kesenangan dan kemewahan dunia। Pada bagian ini akan kita bahas
ujian yang teringan yang akan menimpa manusia.
Ujian teringan adalah yang menimpa pada tubuh (mis। penyakit, kecelakaan, dll). Ujian
pada tubuh ini mempunyai tujuan untuk menguji kesabaran, kerelaan dalam
menerima qodlo’ dan qodar dari Allah Ta’ala. Jika memang lulus, dengan
indikator : sabar, msks ditetapkan-Nya lah pahala dan dihapuskan dari sebagian
dosa atau pun diangkat derajatnya, hingga ujian itu menjadi sebuah rasa nikmat
baginya.
Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW berikut :
“Maa Min Muslimin Yushiybuhu Aza, Syaw Katun Famaa Fawqohaa Illaa
Kaffaro Allahu Bihaa Sayyi’aa Nihi, Wa Huththon ‘Anhu Dzunuubuhu Kamaa
Tahuththusy Syajarotu Wa Ro Fahaa.”, terjemahannya :
Tidak ada seorang Muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan
duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu dihapuskan
Allah perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu
yang menggugurkan daun-daunnya.
(HR. Muttafaq’alaih)
“ Maa Yazaalul Balaa’u Bil Mu’mini Wal Mu’minati Fiy Nafsihi
Wamaalihi Wa Waladihi Hatta Balqo Allaha Wamaa ‘Alayhi
Khothiy’at.” Terjemahannya :
Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa Kaum Mu’minin pria atau
pun wanita, yang mengenai dirinya, hartanya, anaknya, tetapi ia tetap sabar, ia
akan menemui Allah dalam keadaan tiada berdosa. (HR. Turmudzi)
“Maa Yushiybu Min Nashobin Walaa Hamin Walaa Hazhanin Walaa ‘Adzan
Walaa Ghomin, Hattasy Syawkati Yusyaa Kuhaa Illaa Kaffaro-Allahu Bihaa Min
Khothooyaahu.” Terjemahannya :
Tidak ada mushibat yang menimpa seperti keletihan, kelesuan,
sakit, duka, susah atau gangguan sekedar tusukan duri sekalipun, melainkan
dihapuskan oleh Allah sebagian dari dosanya.
(HR. Bukhori dan Muslim )
“Inna Likulli Ummatin Fitnatan, Wa Fitnatu Ummatiyl
Maalu”, terjemahannya : Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian, dan
ujian bagi umatku ialah harta kekayaan. (HR Turmudzi)
Dalam sebuah Hadits Qudsi dikemukakan :
“Ibnaa Aadama, ‘Indaka Maa Yakfiyka, Wa Anta Tathlubu Maa
Yuthghiyka. Ibna Aadama, Laa Bi Qoliylin Taqna’u, Wa Laa Bikatsiyrin Tasyba’u.
Ibna Aadama, Idzaa Ashbahta Mu’aafa Fiy Jasadika, Aamina Fiy Sirbika, ‘Indaka
Quwtu Yawmika, Fa’alaad Dunyaal ‘Afaa’u.” terjemahannya :
Wahai Anak Adam ! Padamu telah ada kecukupan, namun engkau masih
saja mencari-cari apa yang nantinya akan menjadikan engkau melampaui batas.
Wahai Anak Adam ! Engkau ini tidak puas dengan yang sedikit dan tidak kenyang
dengan yang banyak. Wahai Anak Adam ! Apabila pagi-pagi jasadmu telah diberi
sehat dan afiat, merasa aman dalam lingkungannya dan mamiliki makanan untuk
hari itu, tak perlu kau pedulikan lagi apa yang terjadi terhadap dunia.
Bagian III
Ujian berupa cinta akan melampiaskan hafa nafsunya dan dalam
rangka fitrah manusia melanjutkan keturunannya, dapat kita pelajari dari firman
Allah Ta’ala :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ
النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ
مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [l86] dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga).
Dalam kisah para Nabi dilukiskan bahwa Nabi Ibrohim a।s. mendapatkan ujian untuk
menyembelih anak kandungya sendiri (beliau Nabi Isma’il a.s). Berkat kepatuhan,
ketaatan, dan keimanannya kepada Allah Ta’ala, beliau Nabi Ibrohim a.s. lulus
dari ujian tersebut, sehingga nabi Isma’il selamat dari pisau ayahnya sendiri
dan digantikan oleh Allah Ta’ala dengan biri-biri sebagai korban yang
sebenar-benarnya. Disamping itu kita ketahui bersama, dan sejarah pun
membuktikan, betapa karunia yang diberikan kepada Allah Ta’ala sungguh sangat
besar dan luar biasa kepada beliau, dimana anak keturunan beliau banyak yang
menjadi Nabi dan Rasul, sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Nabi. Sungguh
kenikmatan dunia dan akhirat yang sangat besar, dan merupakan cita-cita setiap
orang yang beriman di dunia ini.
Demikian pula, ujian berat bagi kaum laki-laki adalah ujian kaum
perempuan, ujian si rambut panjang, sebagaimana Hadits Nabi SAW berikut :
“Maa Taroktu Ba’diy Fitnatan Adhorro ‘Alar Rijaali Minan
Nisaa’i.” terjemahannya :
Sepeninggalku tiadalah ujian yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki
kecuali godaan kaum perempuan. (HR. Bukhori)
Adapun ujian yang menyebabkan manusia mudah tergelincir
adalah ujian mengenai AQIDAH dan Agama। Banyak orang yang mengaku Muslim, Beriman, termasuk pula …॥ maaf : Alim ‘Ulama didalamnya,
setelah diuji Iman dan Agamanya oleh Allah SWT dengan berbagai cobaan, ternyata
lemah dan terjerumus dalam lembah syahwat serta keinginannya menjadi sesat.
Marilah kita renungkan dan pahami bersama ayat-ayat-Nya yang
tedapat pada Surat Al Ankabut (29) : 10 – 11 sebagaimana berikut :
مِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ
فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن
جَاء نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ
اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman
kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah,
ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah . Dan sungguh jika datang
pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami
adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada
semua manusia?
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ Dan
sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang munafik.
Dijelaskan pula dalam Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut :
“ Asyaddunnaasi Balaa’al Anbiyaa’u Tsummal Amtsalu Faal
Amtsalu.Yubtalar Rojulu ‘Alaa Hasabi Diynihi. Fa Inkaana Syadiyda Fiy Diynihi
Shulbasytada Balaa’uhu Wa Inkaana Fiy Diynihi Riqqotub Talaahu-Allahu ‘Alaa
Hasabi Diynihi, Famaa Yab Rohul Balaa’u Bil ‘Abdi Hatta Bayrukahu Yamsyiy
‘Alaal Ardhi Wa Laysa ‘Alayhi Khothiy’atun.” Terjemahannya :
(Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan
manusia itu sendiri)। Orang yang sangat banyak mendapat ujian itu adalah para Nabi,
kemudian baru orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan
secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatannya kepada Agama. Jika
ia sangat kukuh dan kuat dalam agamanya, sangat kuat pula ujian kepadanya dan
jika lemah agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan
kepada agamanya. Demikianlah bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada
seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apa
pun. (HR. Turmudzi)
Dari keterangan tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa bala’,
ujian, dan cobaan kepada seorang hamba Allah adalah bertujuan :
1.
Membersihkan dan memilih serta
menggolongkan tingkat kesabaran, keimanan, ketaatan, atau bahkan kemunafikan
seseorang.
2.
Bila kita dapat lulus dari ujian
tersebut, dapat mengkangkat derajat dan menghapuskan dosa serta kekhilafan yang
pernah kita lakukan.
3.
Mambentuk dan menempa kepribadian
seorang Mukmin, agar menjadi pribadi yang benar-benar tahan ujian serta
melahirkan umat yang memiliki budi pekerti luhur.
4.
Latihan dan pembiasaan sehingga
setiap manusia yang diuji dan dicoba akan bertambah sabar, kuat cita-citanya
dan tetap pendiriannya. (Ringkasan tulisan M Ali As-Shabuni, Rabithah Alam
Islami No. 4 tahun IV Bulan September 1966)
Sebagai penutup marilah kita senantiasa mengingat,
merenungkan, dan mengamalkan ayat-ayat-Nya yang berbunyi dalam Surat
Ash-Sharh (94) :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
yang memberatkan punggungmu ?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu ,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ,
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap.
Maha Benar Allah dengan segala macam firman-Nya
والسـلام عليكم ورحمة الله وبركات
Semoga bermanfaat

Komentar
Posting Komentar